Tips Berkunjung ke Bukit Alesano

Nama Bukit Alesano lagi tenar beberapa waktu belakangan ini. Muda-mudi yang berdomisili di Jabodetabek dan sekitarnya berbondong-bondong untuk menikmati keindahan pemandangan di puncaknya. Saya termasuk salah satunya juga, hehe… Buat yang mau berkunjung ke sana, saya mau berbagi sedikit tips tentang Bukit Alesano di bawah ini.

  • Seperti yang saya ceritakan di artikel sebelumnya, Bukit Alesano itu memang memesona, tapi penuh derita. Nah, yang paling penting dari semua perbekalan yang harus dibawa ke Bukit Alesano adalah air. Soalnya di sana susah banget untuk dapetin air bersih. Di sana ada air yang mengalir lewat peralon, tapi air itu ditampung di bak yang kotor banget dan parah deh. Waktu ngantre mau ngambil air, saya lihat ada cewek menjerit karena di kolam penampungan air itu ada kodok yang lagi berenang. Kebayang kan gimana mau minum, masak, dan cuci-cuci perlengkapan kalau airnya nggak layak.
  • Siapin fisik dan kendaraan dengan baik. Jalur dari Bogor ke Cijeruk memang relatif gampang dilalui, tapi dari Cijeruk ke puncak bukit itu yang bahaya. Jalannya rusak berat, didominasi bebatuan yang keras dan tajam. Selain itu jalannya juga menanjak terjal. Kalau motor nggak kuat nanjak, otomatis kita harus jalan kaki menanjak. Satu lagi, disarankan jangan bawa mobil karena di sana belum ada parkiran untuk mobil. Kasian mobilnya juga, soalnya medannya berat dan ektrem. Lebih baik bawa motor atau jalan kaki sekalian. Naiknya nggak usah ngebut-ngebut karena jalannya rusak berat.
  • Setiap akhir pekan, Bukit Alesano pasti penuh. Kalau mau berkunjung dan berkemah di sana, lebih baik datang lebih awal, sebelum jam 3 sore. Soalnya jam-jam segitu masih sepi dan kita bisa milih tempat yang strategis untuk ngeliat pemandangan indah di sana. Tempat paling pas adalah di puncak bukit, tapi harus tanya dulu ke penjaganya, udah ada yang booking apa belum. Jangan heran kalau susah tidur malam karena biasanya tamu-tamu masih datang sampai jam 1 malam. Kebanyakan dari mereka memang cuma mau ngeliat city light dan pemandangan sunrise di puncaknya.

Sekian sharing pengalaman dari saya, semoga bermanfaat. Jangan lupa, jadilah pejalan yang bijak teman-teman. Kumpulkan sampah yang kita hasilkan, lalu buang di tempat yang pas. Jangan biarkan alam kita rusak karena ulah kita sendiri. Selamat berkemping!

 

 

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *