The House of Memory dan Kumpulan Saksi Biksu Amarah Sang Merapi

“Coba dilihat mas, gelas beling seperti ini bisa sampe meleleh. Kebayang kan, seperti apa panasnya awan panas Merapi?

Cerita singkat Mas Wanto membuka kunjungan kami ke sebuah rumah berisi koleksi barang-barang sisa letusan Gunung Merapi yang terjadi pada 2010 silam. Rumah yang berada di Dusun Turgo itu dikenal dengan sebutan The House of Memory.

Rumah itu menjadi salah satu tujuan kunjungan dalam paket wisata Lava Tour Merapi. Sebelum beranjak ke titik tertinggi di Kaliadem, pengunjung selalu diajak mampir ke rumah itu untuk melihat dari dekat seperti apa dampak letusan Merapi.

Di dalam rumah itu terdapat perabot rumah tangga, sepeda, motor, sampai tulang-belulang hewan yang usdah rusak berat karena diterjang awan panas Merapi. Di sebuah ruangan juga masih tersisa wujud awan panas yang telah mengendap menjadi pasir.

“Jam dinding ini mati tepat jam 12 kurang 10 menit. Jarum jam ini tidak diset, tapi benar-benar mati pada saat awan panas datang. Ini membuktikan kepada kita bahwa awan panas ketika itu datang pada jam 12 kurang 10 menit,” terang Mas Wanto.

Foto-foto dramatis

Selain benda-benda yang telah disebutkan di atas, di dalam rumah itu juga terdapat kumpulan foto yang dipajang rapi tentang tragedi letusan Merapi. Foto-foto itu menggambarkan banyak hal, mulai dari letusannya, sampai upaya warga mencari perlindungan.

Di sana juga digambarkan secara jelas foto letusan Merapi yang terjadi sebanyak tiga kali pada 2010, yaitu pada 26 Oktober, 30 Oktober, dan terakhir pada 5 November. Bahkan, ada pula jam dinding yang meleleh tepat sesaat setelah diterjang awan panas.

Untuk mampir dan melihat koleksi di dalam rumah itu tidak dipungut biaya. Warga sekitar hanya meletakkan kotak donasi buat siapapun yang ingin menyumbang. Pemandu wisata juga tidak meminta kepada para pengunjung untuk menyumbang.

“Foto-fotonya ngeri banget ya. Tuh lihat, sapi sampe kayak begitu bentuknya, berarti kan panas banget awannya. Beruntung banget deh warga yang selamat dari letusan itu,” kata seorang pengunjung yang berbincang dengan anaknya.

Baca cerita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *