Senja yang Menawan di Puncak Tanjung Aan

tanjung aan - travelus muliawan

Setelah menghabiskan hari untuk belajar berselancar di Selong Belanak dan menenangkan diri di Semeti, perjalanan saya dan teman-teman berakhir di pantai cantik bernama Tanjung Aan. Pantai ini menjadi spot terbaik untuk menikmati pemandangan senja yang menawan.

Pantai Tanjung Aan terdiri dari pantai pasir putih berhias karang-karang basah yang terendam air. Kalau air sedang surut, pengunjung bisa melihat hewan-hewan laut berukuran kecil yang terjebak di sela-sela karang.

Meskipun indah, karang-karang itu tidak jadi tujuan utama para pengunjung. Tujuan utama para wisatawan adalah Bukit Merese, sebuah bukit gundul tempat orang-orang berkumpul menikmati suasana senja.

Bukan cuma untuk duduk santai sambil menikmati pemandangan di atas padang rumput tipis di puncaknya, banyak orang menjadikan Bukit Merese sebagai latar belakang foto-foto romantis mereka bersama pasangan.

Kalau cuaca sedang bagus, kita bisa melihat dengan jelas deburan ombak Samudera Hindia yang menghantam dinding bukit. Dari kejauhan, kita juga disuguhi pemandangan siluet bukit-bukit yang berbaris sejajar di sisi barat.

Di Mana Letak Tanjung Aan?

Pantai Tanjung Aan berjarak sekitar 40 kilometer dari Bandara International Lombok (BIL) dan bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Mataram. Usahakan jangan pulang terlalu malam karena jalan sangat gelap.

Kalau kita datang dari arah Mataram, pantai ini berada di titik paling timur atau setelah pantai Selong Belanak, pantai Kuta, dan pantai Semeti. Sehingga, jarak pantai ini paling jauh dibanding pantai-pantai di atas.

Akses menuju ke pantai ini sangat mudah. Jalannya sangat mulus. Pantai ini juga bisa ditempuh dengan sepeda motor. Namun, pastikan motor yang digunakan dalam kondisi baik, ya! Soalnya, jarang ada bengkel di sepanjang jalan.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan saat akan berkunjung ke Tanjung Aan adalah fisik yang prima. Sebab jarak dan medan yang ditempuh menuju tempat ini cukup berat. Selamat berlibur dan jadilah pejalan yang bijak, kawan!

 

Baca cerita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *