Narasi Sendu di Awal Tahun Baru

Banjir travelusmuliawan

“Malam tahun baru ini nggak kayak biasanya ya. Hujannya deres banget. Kasihan pedagang yang jualan terpompet, kembang api, atau makanan khas tahun baru,” pikir saya di dalam hati.

Mungkin banyak orang merasakan hal yang sama. Perayaan malam tahun baru 2020 terasa sangat berbeda dari biasanya. Suara terompet dan petasan di malam pergantian tahun hanya terdengar lirih. Mereka tak kuasa mengalahkan suara hujan yang mengguyur deras dan petir yang bergemuruh sejak Selasa (31/12) sore. Tidak ada cerita kebahagiaan, yang ada hanya narasi sendu.

Seperti pada malam tahun baru sebelumnya, saya mencoba untuk tidur lebih malam untuk merasakan pergantian tahun ditemani suara petasan dan terompet yang ditiup dengan keras. Sayangnya, derasnya hujan benar-benar membuat suara terompet dan petasan nyaris tidak terdengar. Saya pun tidur dengan perasaan yang mengganjal, tanpa tau apa penyebabnya.

Banjir Bandang

Kecurigaan saya di malam tahun baru terjawab keesokan harinya. Hujan deras yang mengguyur di penghujung tahun 2019 menyebabkan banjir bandang di ratusan titik tepat di hari pertama tahun 2020, termasuk di Kota Bekasi. Berdasarkan info dari grup Whatsapp dan berita di berbagai media, lokasi terparah di Bekasi adalah perumahan Pondok Gede Permai.

Pondok Gede Permai memang merupakan titik langganan banjir di Bekasi, bersama perumahan Dosen IKIP, Kemang Pratama, Kemang IFI, Pondok Mitra Lestari, dan beberapa komplek lain yang dilewati Sungai Cikeas. Namun, banjir tahun ini sangat parah dan bisa dibilang sebagai banjir terburuk yang pernah terjadi.

Cerita di awal tahun baru ini semakin terasa pilu setelah melihat foto-foto dan video yang tersebar di grup Whatsapp. Beberapa teman harus mengungsi karena rumahnya terendam banjir lebih dari 1 meter. Beberapa yang lain bertahan di lantai 2 rumahnya tanpa makanan selama hampir 10 jam.

Tidak sampai di situ, mereka kehilangan harta benda karena hanyut terbawa banjir. Bahkan, mobil yang sengaja diparkir di depan komplek agar tidak terendam banjir justru hanyut karena air datang dari arah yang lain. Akibatnya, mobil mereka rusak berat, kotor, dan entah masih bisa berfungsi atau tidak.

Mereka yang berjiwa besar mungkin bisa berkata, “Yang namanya bencana bisa datang kapan saja. Yang terpenting sekarang adalah bersabar.” Kata-kata itu terdengar klise. Apalagi, kebanyakan orang yang berkata demikian adalah mereka yang tidak terdampak banjir atau mungkin kebanjiran tapi tidak parah.

Alhamdulillah, selama ini saya tidak pernah terkena banjir. Tapi saya tidak akan mengucapkan kata-kata ala motivator di atas. Menurut saya banjir bisa dan harus dicegah. Dengan begitu, kerugian waktu, tenaga, dan harta yang tidak sedikit nilainya tidak terulang lagi. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menumbuhkan kesadaran untuk mencegah banjir.

Tanggung Jawab Bersama

Betul, banjir adalah tanggung jawab bersama antara warga dan pemerintah. Yang harus kita lakukan sebagai warga negara yang baik adalah menjaga kebersihan lingkungan agar laju air di sungai tidak terhambat, baik oleh sampah atau oleh apapun yang berpotensi menyebabkan banjir.

Lalu apa tugas pemerintah? Ini yang membuat saya bingung. Di banyak media, kepala daerah, termasuk Presiden Joko Widodo, bilang bahwa penyebab banjir adalah sampah. Saya agak kecewa dengan pernyataan klise beliau. Anak SD pun tau bahwa sampah bisa menyebabkan banjir.

Sebagai warga Bekasi, di sini saya hanya akan membahaas soal banjir di Bekasi. Menurut saya, banjir tidak cuma disebabkan oleh satu hal, melainkan keterkaitan antara banyak hal. Tidak adil kalau hanya menyalahkan rakyat kecil yang sering membuang di bantaran sungai sebagai penyebab banjir. Tidak bijak kalau menilai banjir hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.

Kalau boleh berpandangan tentang penyebab banjir di Bekasi, saya rasa banjir lebih banyak disebabkan oleh kerusakan lingkungan. Dalam 5 tahun terakhir, saya melihat Bekasi semakin ramai dan diklaim lebih maju karena banyak apartemen yang berdiri. Padahal, kemajuan itu tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, tapi juga kesejahteraan warganya.

Kalau dilihat lebih jauh, alam selalu menjadi korban “kemajuan” Bekasi. Berdasarkan pengamatan saya, apartemen-apartemen baru berdiri di tanah rawa yang notabene merupakan daerah resapan. Sebut saja apartemen L di Pekayon, S di Cikunir, G di Bekasi Timur, dan masih banyak lagi. Akibatnya, wilayah yang tidak pernah banjir ikut menjadi korban banjir. Khususnya perumahan di sekitar apartemen-apartemen tersebut.

Jadi, apa penyebab banjir? Saya bukan ahli geologi tapi saya pernah belajar IPA. Logikanya jelas, alih fungsi lahan dari area resapan bisa menyebabkan banjir. Ketika daerah resapan hilang, air akan mengalir ke segala arah, termasuk ke rumah-rumah warga di sekitar daerah aliran sungai. Nah, dalam kondisi ini, banjir bisa makin parah karena pengaruh sampah yang menyumbat aliran sungai dan curah hujan yang tinggi.

Alam Butuh Perhatian

Solusinya apa? Sebagai warga, kita harus bisa memahami pentingnya menjaga lingkungan. Buat perubahan besar dari hal terkecil, misalnya dengan membuang sampah di tempat yang seharusnya. Langkah ini turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan daerah aliran sungai. Dengan begitu, air bisa mengalir dengan baik menuju ke hilir.

Untuk pemerintah, buatlah kebijakan yang berpihak kepada alam. Misalnya, melarang segala bentuk aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan. Termasuk pembangunan apartemen untuk mendongkrak pendapatan daerah. Plis, jangan terus-menerus terobsesi dengan uang dan keuntungan. Alam juga butuh perhatian.

Pemerintah juga bisa memberikan edukasi praktis kepada warganya, jangan cuma teoritis. Misalnya, mengerahkan warga sekitar daerah aliran sungai di tiap kecamatan untuk bekerja bakti mengeruk sungai secara berkala. Dengan begitu, warga akan sadar betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah bencana.

Pemerintah jangan cuma menghabiskan anggaran untuk sesuatu yang tidak urgent, contohnya membangun trotoar. Saya rasa banjir bandang 5 tahunan seperti ini sudah jelas polanya. Artinya, proyek penanggulangan banjir bisa dijadikan prioritas. Bukan malah menghabiskan uang rakyat demi popularitas dan elektabilitas.

Intinya, pemerintah harus bersikap lebih adil kepada semua. Bukan hanya adil kepada diri mereka dan warga saja, tapi juga kepada alam dan lingkungannya. Sepertinya belakangan ini kita terjebak dengan euforia pembangunan infrastruktur yang merajalela untuk kemudahan manusia. Tapi kita sering kali lupa bahwa alam juga punya nyawa.

Teruntuk para pembaca, pemerintah, warga, dan kita semua, cobalah membuka mata dan telinga selebar-lebarnya. Alam tidak bisa bicara, tapi mereka bisa membuat kita sengsara saat bencana tiba. Yang harus kalian lakukan sekarang adalah melakukan aksi nyata untuk mencegah bencana serupa di lain masa…

 

*Btw, foto banjir besar di awal tulisan ini diambil di perumahan Jatibening Permai, Kota Bekasi, Rabu (1/1). Special thanks to Imam Husein untuk fotonya.

 

Baca cerita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *