Sabar ya, Bang! Insya Allah #PastiAdaJalan

Gojek travelusmuliawan

“Nggak ada orderan, Mas. Dari pagi sampe sore begini, baru dapet satu. Nggak ada orang keluar rumah. Pusing saya,” kurang lebih begitulah keluhan seorang driver Gojek kepada saya beberapa hari yang lalu.

Driver Gojek adalah satu kelompok masyarakat yang merasakan dampak ekonomi cukup parah karena virus Corona. Beberapa hari belakangan, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk menunggu orderan daripada mengantar penumpang ke tempat tujuan.

Beberapa kelompok driver yang kreatif memilih banting stir berjualan masker, minuman, atau makanan di pinggir jalan. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah mewabahnya virus COVID-19.

Aturan PSBB dari Pemerintah

Saya nggak tau pasti kebijakan seperti apa yang dibuat Gojek sebagai perusahaan yang bermitra dengan para driver. Yang saya dengar dari driver, Gojek menutup layanan Go Ride (ojek online) di daerah-daerah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Hal inilah yang membuat para driver lontang-lantung. Soalnya, Go Ride adalah salah satu sumber pendapatan utama para driver. Alhasil, mereka hanya bergantung pada fitur-fitur lain yang masih beroperasi, misalnya Go Food atau Go Send.

Driver Gojek bukan satu-satunya kelompok masyarakat yang merana karena terdampak COVID-19. Sebagian besar pedagang di pasar juga merasakan dampaknya, setidaknya itu yang saya lihat di pasar dekat rumah saya.

Imbauan pemerintah untuk melakukan social & physical distancing membuat pasar jadi sepi pembeli. Bahkan, sebagian pasar ditutup total atas permintaan pemerintah, terutama di daerah zona merah COVID-19.

Sejauh ini, solusi yang diberikan pemerintah sifatnya cuma jangka pendek, yaitu bagi-bagi sembako. Kalau dilihat lebih jauh, solusi ini nggak akan bertahan lama karena kebutuhan masyarakat jauh lebih besar dari stok sembako pemerintah.

Gojek Penghubung Masyarakat

Melihat fenomena ini, sebetulnya Gojek sebagai perusahaan teknologi yang maju dan berkembang bisa mengambil peran cukup besar. Apalagi, mereka punya fitur-fitur yang keren dan jutaan driver yang tersebar di seluruh Indonesia.

Gojek punya fitur Go Send, Go Food, Go Mart, dan Go Pay. Keempat fitur itu bisa digunakan sebagai penghubung antara penjual dan pembeli untuk mendapatkan kebutuhan pokok tanpa harus bertatap muka.

Skemanya begini, pembeli memesan barang via Go Send, Go Food, atau Go Mart. Tentunya, penggunaan fitur harus sesuai dengan jenis barang yang diinginkan. Untuk mencegah penularan virus lewat uang, pembayaran bisa dilakukan secara virtual via Go Pay.

Dengan begitu, pembeli tetap bisa mendapatkan kebutuhan yang mereka inginkan. Penjual juga tetap bisa mendapatkan pemasukkan. Upaya pencegahan virus Corona dengan social & physical distancing juga berjalan lancar.

Simbiosis mutualisme dengan pedangan

Tapi kan, nggak semua pedagang punya aplikasi? Misalnya, pedagang pasar yang lanjut usia atau pedagang yang nggak punya smartphone…

Setahu saya, driver Gojek di Jabodetabek saja jumlahnya jutaan, nggak kalah banyak dari jumlah tenaga medis yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kalau driver-driver ini dipekerjakan untuk membantu masyarakat, mungkin mereka bisa membantu menstabilkan ekonomi.

Nggak semua driver ditugaskan untuk mengantar barang. Sebagian dari mereka dialihtugaskan dari pengantar barang menjadi pembantu pedagang pasar, khususnya pedagang lansia dan mereka yang tidak punya smartphone.

Hal ini bertujuan agar para pedagang bisa tetap terhubung dengan pembeli dan mendapatkan pemasukkan. Caranya, para driver ini bertugas menjaga stand-stand yang didirikan di tempat-tempat tertentu sebagai wadah sejumlah pedagang pasar.

Selain membantu pedagang pasar, misi ini akan membuat pemasukan para driver ini tetap lancar karena mereka tetap aktif bekerja walaupun tidak ada penumpang.

Setelah ada pesanan, barulah para driver yang lain mengantarkan pesanan ke rumah-rumah pembeli. Dengan begitu, ekonomi para pedagang tetap stabil, kebutuhan para pembeli tetap aman, driver tetap mendapatkan pemasukan, dan risiko penularan virus bisa dicegah.

Semangat gotong royong di masyakarat

Itu kan baru penjual. Bagaimana dengan pembeli yang nggak punya aplikasi? Soal ini juga harus dipikirkan!

Menurut saya, mengurus pembeli yang nggak punya aplikasi lebih mudah dari membantu penjual yang tidak punya aplikasi. Sebagai makhluk sosial, pembeli yang nggak punya aplikasi bisa minta tolong ke tetangga kanan kiri untuk dipesankan belanjaan. Untuk tetangga, hitung-hitung pahala membantu orang lain.

Untuk menjaga kesehatan dan keselamatan para driver, mungkin Gojek bisa melengkapi mereka dengan alat pelindung diri, seperti para tenaga medis di rumah sakit. Para driver perlu dilengkapi peralatan itu karena dalam misi ini, mereka juga berperan sebagai garda terdepan dalam melawan virus Corona.

Tapi harus diingat, misi ini nggak akan berhasil tanpa peran serta pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Menurut saya, peran Gojek di sini hanya sebagai fasilitator. Pemerintah harus membuat kebijakan untuk mendukung misi ini. Satu hal lagi, masyarakat harus memanfaatkan program ini dengan baik.

Berhasil atau tidaknya misi ini, nggak ada salahnya dicoba. Tujuannya kan jelas, menghentikan penularan wabah virus Corona dan mengurangi dampak ekonomi yang dirasakan oleh para driver dan pedagang pasar yang saya ilustrasikan di atas. Intinya, kalau ada niat, insya Allah #PastiAdaJalan…

Baca cerita lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *