Persalinan di Masa Pandemi, dari Adzan by Phone sampai Positif Covid-19

Persalinan di masa pandemi - travelusmuliawan

Momen persalinan anak kedua saya diwarnai banyak drama. Mulai dari keluarga sakit, adzan lewat telepon, sampai terkonfirmasi positif Covid-19.

Saya coba ceritakan satu per satu, ya. Drama pertama dimulai sekitar 2 minggu sebelum persalinan. Waktu itu, saya dan hampir semua anggota keluarga mengalami flu. Gejalanya berupa batuk, pilek, hidung tersumbat, dan sebagian mengalami demam.

Awalnya saya pikir ini flu biasa. Setelah seminggu berlalu, saya mulai enggak nyaman karena saya mulai mengalami anosmia atau enggak bisa mencium bau. Saya penasaran apakah ini efek dari hidung yang tersumbat atau bukan.

Sambil mencoba untuk tenang, saya fokus untuk mengobati gejala flu yang saya alami. Yang bikin saya khawatir justru batuk-batuk yang dialami istri saya. “Kasihan kan, dia mau menjalani persalinan malah sakit,” pikir saya waktu itu.

Sesuai prosedur rumah sakit, setelah mendapat jadwal persalinan, istri saya harus melakukan rapid test dan pemeriksaan thorax. Selain itu, pasien hanya boleh didampingi  1 orang dengan hasil rapid test yang non reaktif.

Kekhawatiran saya agak mereda karena Rontgen istri saya menunjukkan hasil yang bagus. Ditambah lagi, pemeriksaan dokter spesialis paru menunjukkan bahwa batuk-batuk istri saya disebabkan oleh alergi.

Baru reda rasa khawatir saya, drama kedua terjadi. Saya enggak boleh mendampingi istri saya karena hasil rapid test saya reaktif. Pihak rumah sakit meminta saya untuk menjalani swab test di Puskesmas setempat.

Beruntung, adik ipar saya bersedia dan boleh mendampingi istri selama persalinan karena hasil rapid test-nya non reaktif.¬†Dengan bantuan dia, istri dan anak saya bisa menjalani perawatan di rumah sakit dengan lebih tenang. Terima kasih Empee…

Sebagai ayah, tentu ada perasaan bersalah karena enggak bisa mendampingi perjuangan istri dari dekat. Apalagi, saya juga enggak bisa adzan langsung di telinga anak saya. Sebagai gantinya, saya adzan melalui voice note dan dikirim via WhatsApp.

Positif Covid-19

Pada saat yang bersamaan dengan waktu kelahiran anak saya, saya menjalani swab test di Puskesmas. Petugas Puskesmas bilang, seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah harus di-swab kalau saya positif Covid-19.

Drama selanjutnya terjadi 5 hari setelah menjalani swab test. Saya terkonfirmasi positif Covid-19 dan harus isolasi mandiri. Saya enggak terlalu kaget, toh saya sudah memisahkan diri sejak anak kedua dan istri saya pulang dari rumah sakit.

Kurang dari 24 jam setelah saya terkonfirmasi positif, pihak Puskesmas datang ke rumah untuk melakukan swab test ke seluruh anggota keluarga saya. Hasilnya, 5 dari 8 anggota keluarga saya positif Covid-19, termasuk anak pertama saya yang berusia 2,5 tahun.

Ibarat sayur tanpa garam, ada perasaan yang mengganjal ketika anak saya lahir. Sampai tulisan ini dibuat atau tepatnya dua minggu sejak bayi kecil itu lahir, saya belum pernah sekali pun mencium dan menggendongnya.

Sedih pastinya, karena cuma bisa melihat buah hati menangis dari kejauhan tanpa bisa berbuat apa-apa. Saya juga merasa bersalah karena enggak bisa bantu istri yang repot mengurus 2 anak kecil, sedangkan luka operasinya belum sembuh.

Protokol Kesehatan

Terlepas dari serangkaian drama yang terjadi, saya yakin selalu ada pelajaran penting di balik setiap musibah. Salah satunya, saya makin yakin bahwa virus Corona itu ada dan bisa menimbulkan dampak yang bahaya bagi siapa pun.

Buat siapa pun yang baca tulisan ini, jangan lagi mengabaikan penerapan protokol kesehatan, ya! Pakai masker! Cuci tangan! Jaga jarak! Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian kayak sekarang ini, segala kemungkinan bisa terjadi.

Virus Corona memang enggak selalu berdampak langsung sama tubuh kita. Tapi, ketika kita tertular tapi tanpa gejala, kita tetap berisiko menularkan virus ini ke orang lain. Nah, ketika orang yang kita tularkan itu punya penyakit bawaan, dampaknya bisa fatal.

Buat yang masih enggak percaya dan meremehkan virus Corona, sering-seringlah main ke rumah sakit. Lihat perjuangan tenaga medis pontang-panting merawat pasien Covid-19. Satu lagi, baca berita dari sumber yang kredibel biar tau perkembangan virus ini sepeti apa.

Virus Corona ini kan musibah. Musibah datangnya dari Tuhan. Kalau enggak percaya adanya musibah, apa kalian enggak percaya juga sama adanya Tuhan? Untuk yang satu ini, banyak-banyaklah berdoa, biar cepat dapat hidayah.

Terakhir, yuk kita mulai untuk lebih peduli dengan orang-orang di sekitar kita dengan menerapkan protokol kesehatan. Semoga sharing singkat ini bermanfaat. Semoga semua bisa kembali sehat dan bisa menikmati kehidupan keluarga yang bahagia. Aamiin.

Nikmati cerita lainnya

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *