Jatuh Hati pada Pesona Bukittinggi

Bukittinggi menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Sumatera Barat selain Padang, Payakumbuh, Sawahlunto, Pariaman, dan kota-kota lainnya. Selain memiliki pemandangan alam yang indah, wisata budaya dan udara dingin yang ada di sana membuat pesona dan keindahan Bukittinggi semakin terlihat nyata.

Saat menginjakkan kaki di Bukittinggi, kita akan disambut oleh kokohnya Jam Gadang yang berdiri di pusat kota. Jam Gadang berari jam besar dalam bahasa Minangkabau. Jam itu bukan hanya menjadi penunjuk waktu, tapi juga monumen, simbol, atau ciri khas kota Bukittinggi yang sudah mendunia.

Saat malam datang, jalan-jalan di sekitar Jam Gadang akan dipenuhi oleh lapak penjual makanan. Kesempatan ini sering dimanfaatkan para wisatawan maupun warga setempat untuk menikmati ragam panganan khas Sumatera Barat. Pengunjung juga sering mampir berbelanja di Pasar Ateh yang berada tak jauh dari Jam Gadang.

Saat saya berkunjung ke Bukittinggi, tidak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Sebab saat itu Bukittinggi diselimuti kabut asap karena kebakaran hutan di beberapa wilayah Sumatera yang meliputi Jambi dan Pekanbaru. Dampaknya, Bukittinggi tak seramai biasanya. Jumlah wisatawan pun berkurang dari kondisi normal.

Salah satu keindahan yang tidak bisa dinikmati sepenuhnya adalah Ngarai Sianok. Ngarai Sianok merupakan lembah curam sedalam 100 meter yang berada di antara Bukittinggi dan Agam. Saat cuaca bagus, keindahan Ngarai Sianok bisa dilihat dengan jelas dari Taman Panorama Bukittinggi.

“Dampaknya sangat terasa, pengunjung jadi berkurang. Kalau biasanya bisa terjual 200 sampai 300 tiket per hari, karena kabut asap penjualan tiket kurang dari 200. Bisa dilihat sendiri, pemandangan tidak kelihatan karena tertutup kabut asap,” ujar Romi, salah satu penjaga loket Taman Panorama.

Selain beberapa spot wisata di atas, Bukittinggi juga memiliki tempat-tempat bersantai yang tak kalah menarik. Di sana ada Lubang Jepang, yang merupakan penjara saat Perang Dunia II, Kebun Binatang Bukittinggi, Benteng Fort de Kock, Jembatan Limpapeh, dan masih banyak tempat lainnya.

“Kalau singgah di Bukittinggi, jangan lupa bawa jaket mas. Udaranya dingin kalau malam. Mau musim apa juga udaranya dingin karena ini dataran tinggi,” kata seorang bapak yang saya temui di sekitar Jam Gadang.

Ibukota Republik Indonesia

Nama Bukittinggi lebih akrab di telinga dibanding sejumlah kota lain di Sumatera Barat karena pernah menjadi ibukota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Pada masa penjajahan Belanda, kota ini juga dikenal dengan nama Fort de Kock dan Parijs van Sumatra.

Kota ini juga kental dengan nuansa sejarahnya karena kota ini merupakan tempat kelahiran proklamator Indonesia, Bung Hatta. Kini, rumah itu dikenal sebagai Museum Rumah Bung Hatta. Rumah yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta No37 itu menjadi salah satu objek wisata sejarah yang patut dikunjungi.

Di dalamnya terdapat banyak benda-benda peninggalan Bung Hatta, seperti perabot rumah tangga, kursi, meja, sepeda, serta berbagai macam foto Bung Hatta baik saat masih anak-anak, maupun setelah dewasa dan menjadi Wakil Presiden Indonesia. Kini, bangunan itu dikelola oleh Pemerintah Kota Bukittinggi.

Masih ada banyak tempat menarik yang bisa disinggahi saat berkunjung ke Bukittinggi. Sayangnya, waktu terus berputar dan memaksa saya untuk bergegas pulang kembali ke Jakarta. Yang jelas, pesona Bukittinggi membuat mata saya terpana dan ingin bertahan lebih lama di sana. Sampai jumpa di lain masa…

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *