Dari Hollandia, Kota Baru, Sukarnopura, Sampai Jayapura

“Hollandia, Kota Baru, Sukarnopura, Jayapura”

Empat kata di atas merupakan evolusi dari nama Jayapura. Sebelum dikenal dengan nama Jayapura seperti sekarang ini, ibukota Provinsi Papua itu pernah bernama Hollandia (1910-1962), Kota Baru (1964), dan Sukarnopura (1964).

Penampakan bagian luar Bandara Sentani. Saya masih digendong waktu itu, hehe
Penampakan bagian luar Bandara Sentani. Saya masih digendong waktu itu, hehe (1991)

Nama Hollandia diberikan oleh Kapten FJP Sachse yang memimpin pasukan pertama Belanda saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua. Hollandia berarti tanah yang melengkung atau tanah alias tempat yang berteluk, seperti negara Belanda.

Maklumlah digendong, usia saya waktu itu baru enam bulan, hehe
Maklumlah kalau saya digendong, soalnya usia saya waktu itu baru enam bulan, hehe (1991)

Nah, setelah Irian Jaya kembali ke tangan Indonesia pada tahun 1963, nama kota ibu berubah menjadi Kota Baru dan Sukarnopura. Sejak tahun 1968, kota itu dinamakan Jayapura, yang berarti ‘Kota Kemenangan’ dalam bahasa Sansekerta.

Menikmati keindahan Samudra Pasifik dari ketinggian (2008)
Menikmati keindahan Samudra Pasifik dari ketinggian (2008)

Meskipun saya asli dari Jawa, tapi saya punya ikatan kekeluargaan yang kuat dengan Jayapura. Kalau dihitung-hitung, setidaknya ada enam saudara dekat yang merantau ke Jayapura demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Berfoto dengan latar belakang Gunung Cyclop yang sejuk dan asri (2008)
Berfoto dengan latar belakang Gunung Cyclop yang sejuk dan asri (2008)

Dari situlah, ikatan kekeluargaan saya dengan orang-orang di Jayapura semakin luas. Saya jadi punya lebih banyak saudara dan punya banyak cerita tentang Jayapura. Bahkan, sebagian dari mereka masih menetap di Jayapura sampai sekarang.

Suasana senja di Teluk Yos Sudarso. Sekarang udah bisa motret sendiri (2016)
Suasana senja di Teluk Yos Sudarso. Sekarang udah bisa motret sendiri, hehe (2016)

Sekarang akses ke Jayapura semakin gampang. Kalau dulu bisa 24 jam (dengan pesawat), lalu turun jadi 8 jam, sekarang penerbangan jakarta-Jayapura bisa ditempuh hanya dalam waktu 4,5 jam! Artinya mobilitas penduduk dari dan ke Jayapura cukup tinggi.

Pembangunan infrastruktur di Jayapura terbilang cepat (2016)
Pembangunan infrastruktur di Jayapura sangat cepat dibanding kota lain di Papua (2016)

Sejak lahir sampai tulisan ini dibuat, alhamdulillah saya sudah tiga kali berkunjung ke Jayapura. Pertama pada tahun 1991, kedua pada 2008, dan ketiga pada 2016 kemarin. Semoga, saya bisa kembali ke sana di lain kesempatan. Sampai jumpa, Jayapura!

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *