2016: Tahun Perjalanan, Tahun Pelajaran

Tak terasa, beberapa jam lagi 2016 akan berakhir dan kita akan masuk ke tahun yang baru. Berbeda dari tahun sebelum-sebelumnya, ada perasaan yang mengganjal saat 2016 sebentar lagi akan pergi. Rasanya, saya tidak rela kalender segera berganti.

Sepanjang tahun 2016, saya mendapatkan kesempatan super spesial untuk berkeliling Indonesia tercinta, dari Sabang di provinsi Aceh sampai Merauke di provinsi Papua. Mungkin, lebih dari 10 ribu kilometer jarak yang saya tempuh sepanjang tahun 2016.

Dari perjalanan yang panjang itu, saya bukan cuma melihat keindahan alam Indonesia, tapi juga bertemu banyak orang dengan kisah hidup yang berbeda-beda. Saya banyak berbincang dengan mereka, mendengar cerita mereka, dan memetik banyak pelajaran hidup dari mereka.

Di Banda Aceh, saya bertemu dengan bapak pengemudi becak motor (bentor). Dia hidup sebatangkara setelah istri dan buah hatinya pergi bersama gelombang tsunami yang menghancurkan Aceh dan sekitarnya pada tahun 2004 silam.

Rasa sedih tidak bisa ditutupi, tapi kehidupan tidak boleh berhenti. Si bapak tetap tegar menjalani hari-harinya yang sepi dengan menjadi pengemudi bentor, sambil menjadi pemandu wisata bagi para wisatawan yang singgah di Banda Aceh.

“Sampai ketemu lagi ya mas, hati-hati di jalan, semoga suatu saat kita bisa ketemu lagi. Jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai di Jakarta,” kata Pak Rafli dengan senyum tipis di bibirnya.

Saya juga mendapat kesempatan melihat keindahan alam Indonesia di Pulau Flores. Apa yang saya lihat di Flores membuat saya takjub. Saya tidak pernah membayangkan betapa indahnya Pulau Flores. Bukan hanya alamnya, tapi juga orang-orangnya yang ramah.

Pak Rafli dan Pak Baim sudah seperti keluarga baru di Labuan Bajo. Mereka mengantarkan saya dan teman-teman berkeliling Taman Nasional Komodo sambil berbagi cerita kehidupan yang panjang. Tanpa sadar, saya menitikkan air mata ketika harus berpisah dengan mereka.

Dengan semangat yang berapi-api, saya akhirnya berhasil mendaratkan kaki di ujung timur Indonesia, Merauke. Saya tidak punya kenalan di sana, tapi saya bisa berkeliling kota Rusa itu atas bantuan Mas Didik, Mas Dian, dan Mas Wahyu, pemuda perantau yang sungguh baik hati.

Dari mereka saya belajar, jadi pemuda itu harus kreatif dan bernyali. Mereka rela meninggalkan kemewahan yang didapat di perusahaan demi membangun usaha sendiri. Yang lebih gila, mereka rela meninggalkan keluarga dan merantau ke ujung Indonesia.

Masih ada banyak pelajaran yang tidak bisa saya ceritakan satu persatu. Semoga, berbagai cerita, pengalaman, dan perjalanan yang saya kumpulkan di tahun 2016 bisa menjadi pelajaran dan bekal kehidupan di tahun 2017. Aamin.

Share this article to Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *