Destinasi Terakhir

destinasi-terakhir-travelusmuliawan

Foto ini diambil pertengahan bulan Oktober 2016. Inilah momen-momen terakhir sebelum Mbah Sonto benar-benar tidak bisa duduk dan hanya berbaring di amben kesayangannya.

Minggu petang, 6 November 2016 saya dan keluarga panik bukan main. Semua sibuk mencari tiket kereta untuk pulang ke Purworejo di malam yang sama. Ini bukan perjalanan wisata, melainkan sebuah panggilan alam untuk mengantar kepergian Mbah Sontomiharjo ke destinasi terakhir beliau, liang kubur.

Tak sampai 30 menit setelah kabar duka itu datang, saya berhasil mendapatkan empat tiket kereta sekaligus untuk pulang. Alhamdulillah, pengalaman saya bepergian dengan kereta api memudahkan saya mendapatkan tiket dalam waktu singkat.

Dalam keadaan mepet, lebih baik langsung mem-booking tiket via telepon ke nomor 121. Cara lain yang bisa ditempuh adalah membeli tiket langsung di stasiun. PT KAI membuka layangan membeli langsung di stasiun tiga jam sebelum jadwal keberangkatan.

Lalu lintas Jakarta hari ini sangat bersahabat, 60 menit setalah tiket itu didapatkan, saya dan keluarga besar sudah berkumpul di Stasiun Pasar Senen, yang menjadi stasiun awal keberangkatan kami pulang ke kampung halaman.

Berbeda dari perjalanan biasanya yang diiringi keceriaan, perjalanan kali ini terasa dingin dan kaku. Semua tampak diam, tertunduk, dan merenung. Hanya ada sedikit canda tawa pemecah keheningan malam yang dingin diselimuti suasana duka.

“Aku seneng dhodholan. Aku cok tuku pit ning Tanjung Priuk numpak sepur. Njuk pit e didhol ning Purworejo. Umpamane tuku 300 ewu, tak dhol 600 ewu. Bathine gede. (Aku senang berjualan. Saya suka beli sepeda di Tanjung Priuk naik kereta. Sepedanya lalu dijual di Purworejo. Misalnya aku beli 300 ribu, sepedanya saya tak jual 600 ribu di Purworejo. Untungnya besa,” itulah salah satu potongan cerita simbah yang paling saya ingat. Beliau sangat membanggakan hidup dengan cara berdagang dan bertani.

Kesedihan yang tertahan sepanjang perjalanan akhirnya pecah saat kami melihat langsung jasad simbah. Semua meluapkan kesedihan, tapi kami tetap mampu mengendalikan diri. Kami semua ikhlas akan kepergian simbah yang berusia 92 tahun.

Empat jam setelah kami tiba, setelah semua prosesi ala islam dilakukan, kami mengantarkan simbah ke pemakaman. Liang kubur berukuran 1 x 2 meter menjadi rumah abadi simbah, rumah yang juga akan menjadi rumah terakhir semua manusia.

Kesedihan sulit dihapuskan, bayang-bayang sosok simbah juga sulit dilupakan. Tapi saya merasa beruntung karena setidaknya selama setahun terakhir saya banyak berinteraksi dengan simbah, banyak menghabiskan waktu berdua dengan beliau.

Kepergian simbah memang terasa menyakitkan, tapi juga memberikan banyak pelajaran. Saya semakin eling bahwa kemanapun kaki kita melangkah dan sejauh apapun jarak yang kita tempuh, suatu saat kita akan pergi ke destinasi terakhir kita, yaitu akhirat.

Maka dari itu, jangan pernah menyombongkan apapun yang telah kita raih di dunia. Sebab yang lebih penting dan harus dilakukan adalah selalu bersyukur, berikhtiar, beramal, dan beribadah agar kelak kita pulang ke akhirat dengan bekal yang cukup.

Selamat Jalan, Mbah Sonto…

Share this article to Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

One thought on “Destinasi Terakhir

  1. JamesHip

    As you will inevitably learn on your path to losing weight, effective weight loss is not only about watching what you eat, but much more about changing your lifestyle. This means changing your habits and how you approach your day-to-day life. Read this information to help you throughout the process.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *