Pasang Surut Kehidupan di Negeri Komodo

Rafli dan awak kapalnya membawa saya dan teman-teman melihat segala sisi keindahan Kepulauan Komodo.
Rafli dan awak kapalnya membawa saya dan teman-teman melihat segala sisi keindahan Kepulauan Komodo.

Saat berkunjung ke Kepulauan Komodo beberapa waktu lalu, saya tak cuma melihat keindahan alam di darat dan lautnya. Saya juga mendengar beragam kisah tentang sejarah Komodo, kehidupan Komodo, termasuk juga kehidupan penduduk di negeri Komodo.

Kisah-kisah itu dituturkan oleh kru kapal yang kami sewa, yaitu Bang Rafli, Baim, dan Fauzi. Mereka tau banyak hal karena memang dilahirkan, dibesarkan, dan hidup di Pulau Komodo. Mereka ramah, murah senyum, dan sangat friendly.

Orang-orang di Desa Komodo merupakan keturunan bangsa Bugis dan Bajo yang sudah menetap di pulau itu sejak lama. Awalnya, mereka hidup sebagai nelayan yang menggantungkan hidup dari laut karena mereka memang hidup bersandingan dengan laut.

Namun sebagian dari mereka mulai meninggalkan status mereka sebagai nelayan karena ikan laut mulai berkurang. Seiring dengan ketenaran nama Komodo dan peningkatan potensi wisata, sebagian orang beralih menjadi pemahat patung komodo.

Bang Rafli menuturkan, ayahnya adalah pelopor kerajinan memahat komodo sejak tahun 1967. Belakangan ini, orang-orang mulai ikut beralih profesi dan menggantungkan hidup sebagai pemahat patung komodo.

“Patung-patung itu dibuat dari kayu warulaut atau kanawa. Kayu itu sejenis tumbuhan mangrove. Untuk satu patung, kita butuh waktu antara satu minggu sampai berbulan-bulan. Semua tergantung ukuran dan detil patung itu,” tutur Rafli.

“Biasanya untuk gantungan kunci, tempelan kulkas, sampai yang ukuran besar untuk pajangan. Saya pernah membuat patung berukuran tinggi 1 meter dan panjang 2 meter. Saya jual sejuta lebih,” kata pria 35 tahun itu melanjutkan.

“Kita diajak berlibur ke tempat-tempat yang luar biasa keren. Mulai dari Pulau Padar, Taman Ubur-Ubur, Pulau Singa dan masih banyak lagi. Kita juga dapat makanan yang enak. Pokoknya Pak Rafli, Pak Baim, dan Fauzi recommended banget deh!” kata Tyo, teman perjalanan saya.

Persaudaraan lebih penting dari uang

Melihat potensi besar di dunia pariwisata, Rafli bersama kakak iparnya Baim, mencoba peruntungan dengan membuka paket wisata perjalanan mengelilingi Kepulauan Komodo. Untuk menjalankan roda usaha itu, mereka menyewa kapal dari kenalannya.

Seiring berjalannya waktu, bisnis Rafli dan Baim semakin berkembang. Untuk memaksimalkan keuntungan yang didapat, mereka membeli kapal sendiri. Kapal yang jadi tonggak perekonomian keluarga mereka itu diberi nama “Langkah Jauh”.

“Nama itu diberikan teman saya. Dia selalu berkeliling Indonesia. Kebetulan waktu itu dia singgah di desa kami dan saat dia akan pulang, kami sedang mengecat kapal ini. Lalu saya tanya, baiknya kapal ini dikasih nama apa ya? Dia bilang Langkah Jauh,” kata Rafli.

Meskipun bisnis pariwisata cukup menjanjikan, mereka tidak ingin lupa diri. Yang mereka impikan adalah hidup makmur dan sejahtera, tak perlu bermewah-mewahan dengan harta yang melimpah. Bagi mereka, persaudaraan lebih penting dari uang.

“Yang penting kita nggak rugi dan tamu juga nggak diberatkan. Kami ingin tamu enjoy dan tetap menjalin silaturahmi setelah meninggalkan Komodo. Buat apa mahal-mahal kalau mereka cuma datang sekali,” kata Baim sambil melemparkan senyum hangatnya.

Tak cuma mengajak tamunya berkeliling, mereka juga memberikan penginapan lengkap dengan makanannya. Saat makan malam bersama, mereka menemani kami dengan cerita-cerita menarik. Dari situ saya menyimpulkan bahwa mereka tak cuma memikirkan diri sendiri.

Saya ingat, saat singgah untuk melihat Komodo dari dekat, Bang Rafli dan Baim menghampiri saya. Sambil malu-malu, mereka mengingatkan saya agar tidak lupa untuk menyelipkan sedikit tips seikhlasnya kepada ranger yang mendampingi perjalanan kami selama melihat Komodo.

“Maaf mas saya agak nggak enak jadinya harus bilang begini. Kami cuma prihatin sama teman-teman ranger di sini. Gaji mereka kecil banget. Padahal risikonya besar. Hak mereka banyak dirampas pihak Taman Nasional. Pengurus yang sekarang berantakan,” ujar Baim.

Bagi siapapun yang berminat memakai jasa mereka untuk berkeliling Kepulauan Komodo, kalian bisa menghubungi Pak Baim di nomor 081246475587. Insya Allah kalian akan puas dengan semua service yang mereka berikan.

 

Share this article to Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *