Magnet Itu Bernama Komodo

Komodo berdiri seperti ini kalau dirinya merasa terancam.
Komodo berdiri seperti ini kalau dirinya merasa terancam.

Jauh hari sebelum Pulau Padar, Manta Point, Pulau Sembilan, dan beberapa spot menarik lainnya dikenal banyak orang, nama komodo sudah mendunia lebih dulu. Reptil purba berwujud kadal raksasa itu menjadi magnet yang mengundang perhatian banyak orang.

Untuk melindungi dan menjaga kelestarian populasi komodo, pemerintah meresmikan Taman Nasional Komodo pada tahun 1980. Berdasarkan data dari taman nasional, populasi komodo saat ini berkisar di antara 2000 sampai 2500 ekor.

Persebaran komodo tidak cuma di Pulau Komodo, tapi juga di Pulau Rinca dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Meski jumlahnya tidak banyak, komodo yang ada di Pulau Rinca lebih agresif daripada Komodo di pulau lainnya.

“Kalau ke sana kita harus lebih hati-hati mas. Dia lebih cepat dan bahaya, apalagi kalau lagi lapar. Komodo kalau lapar dan terancam biasanya berdiri kayak tadi. Kalau mereka sudah kenyang ya seperti ini, tidur-tiduran,” tutur Rafli.

Komodo dianugerahi penciuman dan insting liar yang sangat tajam. Mereka bisa mencium bau darah dengan radius 8 – 10 kilometer. Mereka adalah hewan karnivora yang memakan daging. Mereka mendapatkan makanannya dengan cara berburu.

“Dulu ada istilah feeding (disuapi). Jadi komodo ini diberi makan sama pihak taman nasional. Tapi kegiatan itu dihentikan karena setelah diteliti, sistem itu justru merusak kodrat komodo sebagai predator,” kata Rafli.

“Kalau terus-terusan disuapi, yang ada Komodo kehilangan insting liarnya. Dan kalau suatu saat taman nasional kehabisan uang untuk memberi makan Komodo ini, dikhawatirkan semua komodo akan mati karena tidak bisa mencari makan sendiri.”

“Kalau sudah makan besar satu kali kayak gini, mereka bisa puasa satu sampe delapan bulan,” jelas Rafli saat menemani saya dan teman-teman menyaksikan komodo yang baru makan siang di Pulau Komodo.

Mitos

Dalam perjalanan menjelajah Pulau Komodo, saya banyak berbincang dengan Rafli. Salah satu hal yang membuat saya penasaran adalah, apakah pernah ada kasus komodo memangsa manusia? Terutama penduduk di Desa Komodo yang tinggal berdampingan.

Rafli bilang beberapa tahun lalu pernah ada seorang bocah berusia sekitar delapan tahun yang tewas karena diterkam komodo. Menurut dia, penduduk setempat mengakui bahwa komodo punya sifat pendendam.

“Pas dicari tau sama orang-orang kampung, ternyata katanya ayah si anak yang meninggal ini dulunya pernah coba-coba berburu komodo buat dijual ke luar. Itulah sebabnya. Ya percaya nggak percaya sih,” kata Rafli.

Cerita menyeramkan itu tak berhenti sampai di situ. Saat pemakaman si bocah malang itu berlangsung, komodo yang menerkamnya turut mengikuti prosesi pemakaman dari kejauhan. Dia pergi setelah prosesi berakhir.

Sebetulnya masyarakat di Desa Komodo sudah terbiasa berbaur dengan komodo. Dalam sejumlah kesempatan, komodo sering mampir ke desa kalau dia mencium ada bau darah. Misalnya saat penyembelihan hewan kurban.

“Kalau pas lebaran haji kan kami biasanya motong kambing di SD. Kami motong pagi, nah nanti siangnya si komodo-komodo itu baru datang. Kalau mereka datang, warga saling mengingatkan supaya hati-hati.”

 

Share this article to Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Baca artikel lainnya

1 Komentar

  1. Thanks for each of your efforts on this site. My daughter really loves setting aside time for research and it is simple to grasp why. Most of us know all regarding the powerful way you give very useful tricks via the web blog and even strongly encourage participation from some other people on this content while my daughter is undoubtedly understanding a lot of things. Take advantage of the rest of the year. You’re performing a brilliant job.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *