Terlelap dalam Sejuk Hawa Bajawa

Salah satu sudut di pemandian air panas Soa, Bajawa.
Salah satu sudut di pemandian air panas Soa, Bajawa.

Pada hari kedua di Flores, saya dan teman-teman menginjakkan kaki di Bajawa, sebuah kota kecil berhawa sejuk yang merupakan ibukota Kabupaten Ngada. Kesejukan Bajawa turut mengubah pandangan saya tentang Flores yang selalu terkesan panas dan gersang.

Bajawa merupakan kota kecamatan yang berada di antara dua gunung api vulkanik, yaitu Gunung Inerie dan Gunung Abulobo. Hal itu membuat tanah-tanah pertanian di wilayah Bajawa sangat subur. Kalau di Jawa, Bajawa ini mirip dengan kota Malang, Jawa Timur.

Buat para penggemar kopi, nama Bajawa tentu tak asing lagi. Kota Bajawa ini juga dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Bahkan, namanya sudah mendunia. Kopi di sini ditanam di tanah dengan ketinggian antara 1.000 – 1.500 mdpl.

Selain menggantungkan hidup dari sektor pertanian, Bajawa memiliki sejumlah destinasi wisata andalan. Salah satunya adalah Desa Adat Bena. Desa itu dikenal sebagai desa yang masih mempertahankan pola hidup zaman megalitikum.

“Hampir semua orang Flores tau pemandian air panas ini. Kami datang jauh-jauh dari Larantuka ke sini untuk relaksasi sambil liburan,” kata Pak John, seorang pengunjung di Pemandian Air Panas Soa asal Larantuka, NTT.

Selain menggantungkan hidup dari sektor pertanian, Bajawa memiliki sejumlah destinasi wisata andalan. Salah satunya adalah Desa Adat Bena. Desa itu dikenal sebagai desa yang masih mempertahankan pola hidup zaman megalitikum.

Bajawa juga punya Pemandian Air Panas Soa. Jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota Bajawa, tak jauh dari Bandara Turalelo Soa. Biaya masuknya cuma Rp 6.000, tapi kita bisa berendam sepuasnya. Setelah berendam beberapa saat di sana, badan terasa lebih segar.

Keberadaan sejumlah spot wisata itu membuat Bajawa menjadi salah satu kota tujuan wisata favorit di Flores. Kota itu juga jadi tempat persinggahan bagi mereka yang datang dari Ende menuju ke Labuan Bajo dan sebaliknya. Tak heran kalau ada banyak penginapan di sana.

“Mungkin kalau di Jawa kota ini seperti Puncak Bogor ya. Orang-orang senang ke sini karena udaranya sejuk. Lebih dingin dari Moni, tempat kita bermalam sebelum ke Gunung Kelimutu kemarin,” kata Pak Buang, pemandu perjalanan kami.

Sebetulnya masih banyak cerita yang ingin dituturkan Pak Buang tentang Bajawa malam itu. Sayangnya, mata ini tak sanggup terbuka lebih lama. Akhirnya, kami pun terlelap, tenggelam dalam sejuk hawa Bajawa…

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *