Bagaimana Cara ke Gerbang Batas RI-PNG?

Foto bersama di depan gerbang batas RI-PNG.

Foto bersama di depan gerbang batas RI-PNG.

Gerbang perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini (RI-PNG) sebetulnya bukan objek wisata. Tapi karena banyaknya masyarakat yang ingin melihat dari dekat seperti apa wujud gerbang batas itu, semua berbondong-bondong pergi ke sana.

Perjalanan dari Jayapura menuju ke Skouw didominasi jalanan menanjak dan menurun. Sepanjang jalan, kita bisa melihat lautan Pasifik yang cantik, hutan-hutan yang tinggi menjulang, serta pemukiman transmigran.

Kita bisa memacu mobil dengan kecepatan tinggi karena jalannya beraspal mulus. Di sana juga tak banyak pengendara yang lalu-lalang. Namun, penerangan di sana masih minim, jadi usahakan kembali sebelum petang.

Untuk melihat gerbang batas dari dekat, pengunjung wajib melewati pos penjagaan TNI di pintu masuk. Biasanya, mereka meminta agar jendela mobil dibuka untuk melihat muatan dalam mobil. Mereka juga minta agar salah satu KTP dititipkan.

“Sejauh ini belum ada angkutan umum dari Jayapura ke perbatasan. Satu-satunya cara adalah dengan menyewa kendaraan. Harga sewa mobil antara Rp 400-500 ribu sekali antar. Harga rental mobil sekitar Rp 750 ribu – 1 juta perhari. Kalau dengan menyewa ojek bisa bervariasi antara Rp 100-150 ribu.”

Gerbang batas berada sekitar 200 meter dari pos penjagaan. Umumnya, pengunjung datang untuk foto-foto sambil merasakan sensasi “pergi ke luar negeri” tanpa paspor. Sebab, kita bisa menyeberangi gerbang dan masuk ke wilayah PNG secara cuma-cuma.

Jangan salah sangka dulu ya, kita cuma bisa diizinkan masuk beberapa meter saja. Kalau mau masuk ke PNG untuk keperluan khusus, setiap WNI wajib punya paspor dan melewati pemeriksaan imigrasi yang terletak tak jauh dari gerbang batas PNG.

Di dekat gerbang batas juga ada pantai pasir putih yang indah. Sayangnya, pantai itu berada di daerah Wutung, yang masuk wilayah PNG. Pantai itu cuma bisa dinikmati dari pinggiran tebing yang jaraknya sekitar 300 meter dari gerbang batas.

“Wah kalau datang lebih siang saya bisa antar ke dalam sana mas (sambil menunjuk ke arah hutan yang ada di sebelah utara). Dari sana kita bisa lihat laut Pasifik yang cantik! Tapi kalau sudah sore begini kami nggak berani, bahaya,” kata salah seorang prajurit TNI di perbatasan.

Share this article to Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *