Kisah Prajurit Perbatasan: Relakan Keluarga Demi Membela Negara

Dua orang tentara santai sejenak disela-sela tugasnya menjaga perbatasan Indonesia - Papua Nugini
Dua orang tentara penjaga perbatasan Indonesia – Papua Nugini.

Tiga orang prajutir TNI sibuk memeriksa barang penduduk Papua Nugini yang baru pulang berbelanja di Pasar Skouw, Jayapura sore itu. Setelah dipastikan aman, mereka mempersilahkan warga negara asing itu melintasi gerbang batas Indonesia – Papua Nugini.

Di sisi lain, ada beberapa petugas yang sedang asik berbincang dengan sejumlah turis yang berkunjung untuk melihat wajah gerbang batas RI – PNG. Meski suasananya terlihat aman, para prajurit itu tak pernah menanggalkan senjata mereka.

Kurang lebih begitu lah keadaan sehari-hari di perbatasan RI – PNG yang bisa saya gambarkan. Selain berbincang santai sama John pada artikel sebelumnya, saya juga ngobrol dengan beberapa tentara yang bertugas di perbatasan.

“Ya beginilah keadaan di perbatasan setiap hari. Orang PNG kebanyakan belanja di pasar kita. Mereka cuma pakai surat, nggak perlu paspor karena mereka cuma ke pasar,” kata Pak Sutikno, salah satu prajurit TNI yang bertugas di perbatasan.

Meski bertugas jauh dari keluarga, Pak Tikno dan prajurit perbatasan lainnya tetap bangga karena bisa menjaga wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam diri mereka seperti sudah tertanam keyakinan bahwa keamanan NKRI adalah segalanya.

“Kami sebetulnya seneng banget mas karena tamu-tamu ini bikin suasana jadi rame. Kami juga ada hiburan karena lama nggak ketemu keluarga. Tapi kami harus tetap waspada karena ancaman bisa datang setiap saat,” lanjut tentara asal Tegal, Jawa Tengah itu dengan logat ngapak.

“Kami yang di sini masih mending mas bisa ketemu banyak orang, banyak saudara. Nggak kaya teman-teman yang tugas di hutan mas. Mereka nggak bisa ketemu siapa-siapa, jauh dari mana-mana, prihatin pokoknya,” ujar Pak Tikno.

Meskipun merasa khawatir kalau-kalau ada teror, para tentara itu selalu berusaha menghadirkan suasana yang damai kepada para pengunjung. Mereka tak segan menyapa dan berbagi cerita dengan tamu-tamu yang datang.

Mendengar cerita itu, ibu dan beberapa saudara saya berinisiatif memberikan sebungkus jeruk kepada salah satu tentara yang bertugas. Namanya…. aduh saya lupa. Pokoknya pak tentara itu berasal dari Bandung, Jawa Barat.

“Wah makasih banyak ya bu, repot-repot segala. Kebetulan udah lama nggak makan jeruk, hehehe…” kata pak tentara itu.

“Iya sama-sama mas. Lumayan juga kan buat ngemil sama temen-temen di pos,” jawab ibu saya sambil terkekeh.

“Iya bu makasih banyak. Hati-hati di jalan ya, salam buat keluarga,” ujar pak tentara diiringi lambaian tangan perpisahan.

Ditugaskan di tempat yang jauh dari keluarga memang sangat menyiksa, apalagi di daerah berbahaya. Selamat bertugas pak tentara! Semoga jeri payah dan baktimu untuk negara bisa menjadi berkah untuk keluarga yang menantimu jauh di sana…

Baca artikel lainnya

1 Komentar

  1. I’m just writing to make you understand what a beneficial encounter my cousin’s girl encountered checking yuor web blog. She picked up some issues, with the inclusion of what it’s like to have an ideal coaching heart to have most people without hassle fully grasp a variety of very confusing things. You really exceeded our expectations. Many thanks for distributing these essential, trustworthy, revealing and also cool thoughts on the topic to Mary.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *