Romantisme Warga di Tapal Batas Papua

Orang-orang Papua Nugini baru pulang berbelanja di Pasar Skouw.

Orang-orang Papua Nugini baru pulang berbelanja di Pasar Skouw.

Kekecewaan yang saya rasakan karena gagal mengunjungi Tugu MacArthur akhirnya terobati. Obatnya adalah pemandangan gerbang batas Republik Indonesia dengan Papua Nugini, yang saya lihat sehari sebelum meninggalkan tanah Papua.

Gerbang batas RI-PNG berada di wilayah administratif Kabupaten Jayapura, tepatnya di Desa Skouw. Letaknya sekitar 70 kilometer sebelah timur Kota Jayapura dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam dengan mobil.

Mungkin sekilas tidak ada yang istimewa dengan gerbang batas RI-PNG. Di sana cuma ada gerbang besar dilapisi tembok tebal berbendera Indonesia dan Papua Nugini. Di sana juga tertulis “Selamat Datang di Indonesia” dan “Welkom Long Papua Niugini”.

Setelah dilihat lebih jauh, ternyata ada banyak hal menarik yang saya temukan di sana. Salah satunya adalah keakraban antara penduduk Indonesia dengan penduduk Papua Nugini di sekitar wilayah perbatasan.

Tidak ada ketegangan atau suasana mencekam seperti yang sering diberitakan di televisi dan media massa lainnya. Yang saya lihat justru romantisme nyata antara kedua kelompok masyarakat dan para prajurit TNI di tapal batas Papua.

“Papua memang indah. Tuhan tak hanya menampilkan keindahan pada bentang alamnya, tapi budaya dan kehidupan masyarakatnya juga sangat beragam dan berbeda dari lainnya. Kalau ada rejeki dan umur, saya harap bisa kembali ke sana…”

Banyak orang Papua Nugini melintasi gerbang batas dan masuk wilayah Indonesia untuk berbelanja kebutuhan pokok. Ada juga warga Indonesia yang menyeberangi gerbang batas untuk mengantar barang pesanan. Mereka berbaur satu sama lain.

Di antara sekian banyak penduduk lokal yang beraktivitas di perbatasan, ada satu orang yang menarik perhatian saya untuk berbincang. Dia adalah John alias Mike. Wajahnya sama persis dengan orang Papua pada umumnya, tapi posturnya lebih tinggi.

Dari posturnya, umur John kira-kira 45 tahunan. Dia menyambut saya dengan senyuman manis. Sebelum saya memulai bertanya, dia langsung menjulurkan tangannya ke saya untuk bersalaman. Kami pun berbincang santai dengan bahasa Inggris.

“Ai kom hie elmos evei dei. Ai bring som tings wrom hie tu mai vilej. Wi work tugether hie (Saya hampir setiap hari datang ke sini. Saya membawa sejumlah barang untuk dibawa ke kampung saya,” kata John dalam bahasa Inggris dengan logat khas Papua Nugini.

“No, wi dont pei eniting tu kam hie. De armis a veri wel. Bikaus wi a brader. Ai hev lots of rilesyen in Papua (kami tidak perlu bayar buat masuk ke Indonesia. Tentara di sini sangat ramah. Karena kami memang saudara. Saya punya banyak saudara di Papua,” lanjut John.

Terima kasih sudah mau berbagi cerita ya Pak John. Semoga kisah ini bermanfaat buat siapapun yang baca. Saya juga berharap agar suasana romantis di tapal batas Papua ini bisa terus dipelihara selama-lamanya. Amin…

Share this article to Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *