Air Mata Haru di Landasan Pacu Mopah

Pemandangan sehari-hari di bandar udara Mopah, Merauke
Pemandangan sehari-hari di bandar udara Mopah, Merauke

Perjalanan panjang dari Sabang sampai Merauke yang saya lalui sepanjang tahun 2016 ini meninggalkan kesan spesial di hati. Perjalanan itu bukan jalan-jalan, berwisata, dan bersenang-senang, melainkan sebuah pencarian makna hidup yang sesungguhnya.

Ada banyak pelajaran yang didapat sepanjang perjalanan. Mulai dari kisah bapak yang menyewakan sepeda motor di pelabuhan balohan Sabang, kisah bapak pengemudi bentor yang kehilangan keluarganya karena tsunami aceh, dan kehidupan orang di perbatasan RI – PNG.

Dari mereka saya belajar bahwa hidup itu harus ikhlas dan pasrah, tapi harus tetap diperjuangkan. Rejeki memang sudah diatur Tuhan, tapi semua itu tidak datang dengan sendirinya, harus ada daya dan upaya untuk mendapatkannya. Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah berdoa dan terus berdoa.

“Orang-orang di perbatasan Sota, Merauke hidup dengan sangat sederhana. Mereka berdagang untuk hidup hari ini. Untuk kehidupan besok, mereka akan memikirkannya besok. Tak ada kesempatan untuk menumpuk harta dan memperkaya diri”

Satu kata yang paling pas untuk diucapkan atas perjalanan super spesial ini adalah syukur alhamdulillah. Terima kasih Tuhan, engkau telah memberi kesempatan buat saya untuk bertualang melihat keindahan alam dan berjumpa dengan manusia-manusia hebat di di sana.

Mengingat itu semua, tanpa sadar butiran air mata menetes dari kelopak mata saya. Mungkin, air mata haru yang menetes di atas landasan pacu bandar udara Mopah, Merauke menjadi bukti kecil dari rasa syukur saya atas nikmat yang dilimpahkan-Nya.

Sampai jumpa di kesempatan berikutnya, Merauke…

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *