Menghidupkan Semangat Membangun Negeri di Pelosok NKRI

Dari kiri-kekanan: Dian, Udin, Didik, Dian, Wahyu.
Dari kiri-kekanan: Dian, Udin, Didik, Dian, Wahyu.

Perjalanan saya ke Merauke awal 2016 mungkin tidak akan pernah terwujud kalau Tuhan tidak memperkenalkan saya dengan Wahyu Nur Rohim, Didik Triyuwono, dan Dian Saputra. Artikel ini akan membahas sedikit tentang pertemuan saya dengan mereka, para pemuda penuh talenta yang punya semangat membangun negeri, di pelosok NKRI.

Sebelum terbang ke Merauke, saya mencari banyak informasi via internet. Setelah cari sana-sini, akhirnya saya menemukan situs www.sotamerauke.com yang ternyata dikelola oleh Wahyu. Saya juga menemukan akun Instagram @info_merauke, yang jadi awal pertemuan saya dengan Didik, Dian, serta dua teman mereka Udin dan Sugun.

Setelah ngobrol panjang lebar, saya jadi tau kalau Didik dan Dian adalah warga pendatang. Mereka berdua merantau ke Merauke untuk sama-sama merintis usaha baru di bidang jasa perbaikan alat-alat berat sekaligus penjualan sparepart-nya.

Untuk menjalankan usahanya, mereka berdua dibantu Udin, yang sama-sama merupakan jebolan salah satu perusahaan alat berat terbesar di Indonesia, United Tractors. Sambil menjalankan bisnisnya, mereka juga menggerakkan @info_merauke.

@info_merauke merupakan sebuah akun di Instagram yang berisi informasi tentang Merauke. Meskipun hidup di tanah perantauan, Didik dkk punya semangat yang besar untuk memperkenalkan Merauke ke dunia luar, salah satunya lewat promosi wisata.

“Kami sama-sama suka jalan-jalan, jadi kami buat akun itu di Instagram. Awalnya cuma iseng-iseng, tapi ternyata dapat sambutan positif juga dari teman-teman. Itung-itung bantu promosikan potensi wisata di Merauke,” kata Didik.

Selama di Merauke, mereka tak keberatan mengantarkan saya berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain secara gratis. Mereka juga membuat perjalanan saya semakin berkesan dengan cerita-cerita informatif tentang Merauke.

“Saya beruntung bisa bertemu mereka. Ada banyak pelajaran yang saya ambil, mulai dari cara bertahan hidup di tanah perantauan, cara berpikir kreatif dan inovatif untuk menghasilkan uang, termasuk juga cara membantu dengan ikhlas tanpa pamrih”

Perjalanan saya tak berhenti sampai di situ. Saya juga diajak ke KTM Salor, tempat dimana keluarga Sugun tinggal. Dari perjalanan itu saya bisa bertemu banyak orang baru dan memetik banyak pelajaran dari keseharian mereka.

Selain aktif menyebarkan potensi Merauke via @info_merauke, Didik cs juga melebarkan sayap ke bisnis souvenir bernama Pele Clothing Line. Lewat akun Instagram itu, Didik, Dian, dan teman-teman lainnya menjual kaos dengan desain khas Merauke.

“Bisnis baju ini juga salah satu usaha kami buat mempromosikan Merauke. Siapa tau kalau mas pake baju ini di Jakarta nanti orang-orang akan tertarik untuk beli baju ini atau malah kepingin datang langsung ke Merauke,” ujar Dian.

Wahyu bersama kaos Pele dan situs www.sotamerauke.com.
Wahyu bersama kaos Pele dan situs www.sotamerauke.com.

Mengangkat potensi wisata di Sota

Saya juga melihat motivasi dan semangat membangun Indonesia dalam diri Wahyu. Dia adalah seorang sarjana teknik dari Universitas Diponegoro, Semarang. Dia ditempatkan di Sota untuk mengerjakan salah satu projek yang digagas Kementerian ESDM.

“Saya lihat potensi wisata di Sota ini sangat besar mas, tapi sayang belum ada yang mengembangkan. Makanya saya buat www.sotamerauke.com ini. Mas adalah pasien pertama saya yang bertanya tentang Sota lewat website ini,” kata Wahyu.

Dengan bekal pengalaman membuat website saat masih kuliah, pelan-pelan Wahyu mengisi website itu dengan tulisan-tulisan informatif mengenai pariwisata di Sota dan Merauke. Info itu terdiri dari spot wisata, transportasi, serta daftar penginapan lengkap di Merauke.

“Pelan-pelan saya juga mulai mengajarkan ke warga setempat tentang pengoperasian website ini. Saya juga mengajari mereka mengelola web ini karena saya nggak selamanya akan di sini. Alhamdulillah tanggapan mereka sangat positif,” tutur Wahyu.

Belakangan saya lihat Wahyu serta Dian dan Didik telah bekerja sama untuk mengembangkan potensi Merauke di bidang pariwisata. Baju khas Merauke yang dijual Didik dan Dian bisa dilihat secara langsung via website yang dibuat Wahyu.

Meskipun tidak menetap di tanah kelahirannya, para pemuda di atas punya semangat yang besar dalam mengembangkan tanah perantauan. Semoga kisah ini bisa memberikan inspirasi dan motivasi buat kita semua untuk terus menumbuhkan semangat membangun negeri…

Share this article to Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *