Belajar Hidup dari Petani Tangguh di Salor

Kondisi jalanan desa di wilayah KTM Salor, Distrik Kurik, Merauke.
Kondisi jalanan desa di wilayah KTM Salor, Distrik Kurik, Merauke.

Perjalanan saya pada hari kedua di Merauke berlanjut ke wilayah Kota Terpadu Mandiri (KTM) Salor yang berada di Distrik Kurik. Letaknya sekitar 50 km dari kota Merauke. Waktu tempuh perjalanannya sekitar satu jam dengan mobil. Dari perjalanan itu, saya belajar banyak tentang cara bertahan hidup dari petani-petani tangguh di Salor.

Saya pergi ke Salor bersama empat teman baru, yaitu Mas Didik, Mas Udin, Mas Dian, dan Mas Sugun. Tujuan kami ke sana adalah untuk melihat dari dekat keindahan rumah rayap Musamus. Berbeda dengan rumah rayap yang saya temui di Sota kemarin, Musamus di Salor jumlahnya lebih banyak dan ukurannya lebih besar.

Bisa melihat dari dekat kumpulan Musamus di Salor memang sangat menyenangkan. Soalnya, Musamus ini cuma ada di Merauke dan beberapa wilayah di bagian utara Australia. Tapi yang nggak kalah penting dari perjalanan saya ke Salor adalah, saya bisa melihat dari dekat kehidupan para transmigran dari Jawa yang menetap di sana.

Sejak tahun 1980-an, Kabupaten Merauke menjadi salah satu daerah tujuan transmigrasi orang-orang Jawa. Nggak heran kalau ada sangat banyak orang Jawa di sana. Logat mereka masih medok, tapi sudah mulai bercampur dengan cengkok Papua. Kalau ditanya bahasa apa namanya, mereka kompak menjawab “Jamer” alias Jawa-Merauke.

Nah, di Salor ini saya singgah di rumah Mas Sugun. Saya disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Kami berbincang hangat sambil disuguhi minuman “marimas” dingin dan buah pepaya. Uniknya, pepaya di Salor disajikan bersama kulitnya. Jadi kita makan dikerok dengan sendok. Nggak seperti di Jawa yang dikupas bersih dan dipotong-potong kecil.

Dari hal yang sederhana itu saya menerjemahkan bahwa kehidupan orang-orang di sana sangat mandiri, tidak ada yang manja-manja seperti orang-orang di kota. Ternyata, pepaya itu baru makanan pembuka. Tak lama berselang, kami disuguhi rica-rica entok dengan nasi putih dan sayur daun pepaya. Sederhana, tapi nikmat banget rasanya.

“Ya seperti inilah rumahnya Sugun. Maklum di kampung,” kata ayah Sugun saat menyambut kedatangan saya dan teman-teman. Kebetulan, saya baru pertama kali ke rumah itu, sedangkan tiga teman saya yang lain sudah sering mondar-mandir ke sana.

Setelah makan, ayah Sugun bercerita banyak tentang kehidupan di sana. Mayoritas penduduk Salor adalah petani, Mereka bermigrasi dari Jawa ke Merauke dengan diberi modal rumah dan tanah untuk diolah. Selain bertani padi, mereka juga menanam buah-buahan di tanah yang kosong untuk menambah pendapatan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sayangnya, perjuangan mereka dalam bertani tak semudah di Jawa. Kendala terbesar yang mereka alami setiap tahun adalah krisis air bersih. Kalau musim kemarau datang, mereka bisa kekeringan sampai enam bulan lamanya. Akibatnya, mereka “cuti” bertani. Jangankan buat bertani, buat minum, mandi, dan mencuci saja susah.

“Ya kalau pas hujan seperti ini kami selalu nampung air hujan itu di bak-bak buat jadi simpanan di musim kemarau. Kalau nggak gitu ya kita kesusahan pas musim kemarau. Mau cari mata air di sini juga susah. Beberapa kali pernah di bor, tapi air yang keluar warna kuning,” kata bapak dua anak yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah, itu sambil tertawa.

Pada akhir 2015 lalu, Pak Presiden Jokowi sempat berkunung ke Merauke. Dalam kunjungannya, beliau menegaskan bahwa Merauke akan menjadi lumbung padi nasional. Untuk itu, sektor pertanian di Merauke akan ditingkatkan. Beliau juga berjanji akan meningkatkan kesejahteraan petani di Merauke.

Ayah Sugun dan petani-petani di Salor tentu berharap ucapan Pak Presiden bukan sekadar janji-janji politis yang diumbar tanpa realisasi. Meskipun tak banyak bercerita soal mimpi dan harapan ke depan, saya yakin mereka pasti mengharapkan perhatian yang besar dari pemerintah agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Meskipun dia bercerita tentang kesusahan yang dialami, ayah Sugun mengisahkannya sambil tersenyum bahagia. Dari situ saya belajar, sesuah apapun hidup itu harus tetap disyukuri dan dinikmati. Terima kasih pak buat hidangan dan cerita-cerita kehidupan yang menginspirasi. Semoga tetap dan selalu diparingi rejeki dari Gusti Allah.

Share this article to Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Baca artikel lainnya

2 Komentar

  1. hallo kak sy mahasiswa musamus. tulisan kk menarik yah 😊.. apa sy bisa memakai satu dua paragraf kk untuk keperluan PHBD ?
    terimakasih sblumnya ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *