Nikmatnya Secangkir Kopi di Sawarna

Pasir Putih Sawarna Travelusmuliawan.com
Pemandangan Pantai Pasir Putih dari Bukit Senyum.

Selasa malam itu cuaca di Sawarna sangat cerah. Bintang-bintang bersinar terang, suara gemuruh ombak Pantai Pasir Putih juga terdengar jelas, beriringan dengan nyanyian jangkrik. Saya meneguk secangkir kopi hangat bersama dua teman akrab di penginapan. Entah kenapa, nikmatnya secangkir kopi itu membuat pikiran saya melayang ke awal perjalanan.

Untuk merasakan sensasi liburan yang sesungguhnya, kami memutuskan pergi ke Sawarna menggunakan kendaraan umum dengan rute Bogor – Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Sawarna. Perjalanan menuju ke Sawarna sangat berkesan. Kami berjumpa banyak orang dengan berbagai karakter dan latar belakang. Kami juga melewati medan ekstrem yang penuh tantangan.

Meski perjalanannya cukup berat, jalur yang berkelok dan menanjak itu justru membuka mata kami akan keindahan pemandangan Teluk Pelabuhan Ratu nan eksotis dari ketinggian. Setelah tiba di Sawarna, kami mengunjungi empat obyek wisata favorit, yaitu Pantai Karang Bereum, Legon Pari, Karang Taraje, dan yang paling fenomenal, yaitu Tanjung Layar.

Karang Bereum punya karang-karang besar bernuansa hujau karena ditumbuhi lumut. Tak jauh dari Karang Bereum ada Legon Pari, pantai berarus kecil dan sangat cocok untuk berenang. Di sisi paling timur Sawarna ada Karang Taraje. Pantai itu dipenuhi karang yang besar dan memanjang. Saat pasang, air akan menyebrangi karang dan menimbulkan efek seperti air terjun.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanjung Layar, kami diajak melintasi Bukit Senyum. Dari tempat rahasia itu, kami bisa menikmati kecantikan Samudra Hindia dari ketinggian. Tak berselang lama, tibalah kami di Tanjung Layar, pantai dengan dua tebing besar menyerupai layar yang menjadi ikon wisata Sawarna.

Liburan kami semakin lengkap karena kami tidak hanya melihat kekayaan alam Indonesia di Sawarna, tetapi juga belajar mengenai kearifan lokal dari penduduk setempat. Orang Sawarna sangat ramah, mereka menyapa para pelancong dengan senyum hangat. Di samping itu, mereka tetap memegang teguh budaya leluhur dengan menjaga kelestarian alam.

“Orang-orang di sini senang karena kalau tamu-tamu datang pemasukan kami jadi bertambah,” kata Ade (32), tukang ojek yang menyambi sebagai penjaga penginapan dan pemandu wisata. “Kami maunya pemerintah serius menggarap wisata ini, mulai dari merapikan jalanan sampai menambah akses angkutan masuk supaya tamu-tamu terus bertambah,” tutur Ade.

Selama ini, akses menuju pantai hanya bisa dilalui dengan motor. Mobil diparkir jauh dari pantai karena tidak ada jalan langsung yang memungkinkan untuk dilalui kendaraan roda empat. ELF yang langsung menuju Sawarna juga hanya ada satu dari Pelabuhan Ratu. Sisanya, pelancong bisa menggunakan ELF menuju Bayah, lalu menyambung ojek dari pertigaan Sawarna.

Setelah pikiran melayang kesana-kemari, saya tersadar dan melanjutkan perbincangan dengan dua teman tadi. Sambil menyruput kopi yang hangat, saya mulai memahami arti sebuah pertemanan melalui sebuah perjalanan. Secangkir kopi itu terasa tidak biasa. Seteguk kopi itu menghadirkan banyak inspirasi.

Saya juga merasa mendapat banyak ilmu, pengalaman, dan yang terpenting, saya semakin yakin akan kebesaran Tuhan. Bagi saya, traveling bukan sekadar jalan-jalan, berfoto ria, dan pamer di media sosial. Traveling adalah perjalanan untuk belajar, mengenal diri sendiri, dan mendekatkan diri dengan sang pencipta…

*Tulisan ini juga tayang di Kompasiana.

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *