Melihat Baik dan Buruk Wajah Indonesia dari Balik Kabin Turkish Airline

Pesawat Turkish Airline singgah di bandara Atatturk, Istanbul.

Pesawat Turkish Airline singgah di bandara Atatturk, Istanbul.

Sebelum tiba dan menjalankan tugas di Budapest, Hongaria, saya harus melalui perjalanan panjang selama sekitar 15 jam dengan rute Jakarta-Istanbul-Budapest. Rinciannya, 9 jam dari Jakarta menuju Istanbul, 3 jam dari Istanbul ke Budapest, dan 3 jam sisanya untuk transit.

Ada cerita menarik yang saya dapat dari perjalanan udara itu. Selama 9 jam mengudara dari Jakarta menuju Istanbul, saya ngobrol banyak dengan Toby, seorang mahasiswa asal Jerman yang menjalani pertukaran pelajar di Insitut Pertanian Bogor (IPB) selama lima bulan.

Toby sangat ramah, makanya saya manfaatkan keramahannya itu untuk bertanya-tanya. Pemuda 26 tahun itu banyak bercerita tentang pengalaman baik dan buruk selama berada di Indonesia. Dari situ saya menangkap gambaran wajah Indonesia di mata Toby.

Apa yang paling mengesankan dari Indonesia Toby?

“Ya Indonesia adalah negara yang indah. Selama lima bulan di Indonesia, saya banyak berkeliling untuk melihat keindahan alamnya. Saya pergi ke Maluku, ke Lombok, ke Sulawesi, ke Kalimantan, dan yang lainnya. Suatu saat kamu harus coba,” jawab Toby.

Menurut Toby, keindahan alam Indonesia adalah sebuah hal yang mahal. Sebab, pemandangan itu tidak bisa ditemukan di tempat lain, termasuk di negaranya Jerman. Karena itulah, dia merasa sangat beruntung bisa singgah di Indonesia.

“Saya juga senang berbaur dengan masyarakat lokal. Mereka sangat ramah dan murah senyum. Mereka menyambut orang asing seperti saya dengan ramah. Hal itu juga membuat saya terkesan. tapi saya belum tau kapan bisa balik ke sini lagi,” tutur Toby.

“Indonesia negara yang indah dan kaya. Tapi belum dikelola dengan baik. Semoga kamu bisa punya pemimpin yang baik, tegas, dan aparat yang jujur,” kata Toby.

Pernah nggak mengalami hal yang tidak menyenangkan di Indonesia?

“Ya lumayan banyak juga. Saya paling malas kalau berhubungan dengan polisi di Indonesia. Waktu itu saya pulang malam dari Jakarta naik taksi bersama teman-teman. Tiba-tiba polisi memberhentikan mobil kami tanpa alasan. Ujung-ujungnya, mereka minta duit,” kata Toby.

Toby juga mengeluhkan kinerja dosen di kampus IPB yang menurut dia cenderung menyulitkan mahasiswanya. Menurut Toby, dosen dan staf administrasi di sana sering memberi info soal jadwal perkuliahan secara tiba-tiba kepada mahasiswanya.

“Beberapa orang di sana juga sering meminta uang lebih kepada kami mahasiswa asing. Katanya untuk administrasi. Aneh sekali. Di negara saya tidak ada yang seperti itu. Bayar kuliah itu sekali saja di awal semester. Tidak ada pungutan lain,” keluh Toby.

Kalau kehidupan Indonesia secara umum, bagaimana kamu melihatnya?

“Satu hal yang saya lihat agak lucu belakangan ini adalah kebijakan presiden anda. Pemikirannya tidak rasional. Kemarin dia menandatangani kebijakan bebas visa kepada 30 negara supaya meningkatkan wisatawan yang datang, tapi dibatalkan lagi,” ujar Toby.

“Kebijakan itu kan sudah dibuat, masa dibatalkan? Ini kan lucu. Lagipula negara mana yang setuju dengan kebijakan itu. Membebaskan visa masuk Indonesia, tapi dia juga mau negara lain membebaskan visa untuk orang-orang Indonesia. Tidak masuk akal,” katanya.

Toby menilai Indonesia adalah negara yang indah dan besar. Hanya saja, belum bisa dikelola dengan baik. Semoga cerita singkat Toby bisa mengingatkan kita semua untuk terus berbenah supaya wajah buruk Indonesia tak tampak lagi di mata tamu-tamu mancanegara.

Salam cinta Indonesia.

 

Share this article to Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *