Malam Syahdu di Benua Biru

Menikmati santap malam di tepian Sungai Danube.
Menikmati santap malam di tepian Sungai Danube.

Kesempatan menginjakkan kaki di Eropa memberikan banyak pengalaman baru dalam hidup saya. Saya merasa sangat beruntung karena bisa merasakan iklim kehidupan yang jauh berbeda di belahan bumi yang lain.

Salah satu momen paling melekat dalam ingatan saya adalah saat menikmati santap malam di Budapest. Bukan soal makanan yang saya pesan atau harga yang murah, tetapi suasana malam yang syahdu di Benua Biru.

Bersama keluarga pebalap Rio Haryanto, saya makan malam di sebuah restoran yang berdiri tak jauh dari Sungai Danube. Karena takut tidak cocok dengan perut orang Indonesia, saya cari aman dan pilih makan spageti.

Saat matahari mulai tenggelam, tiga pemusik hadir menemani pengunjung lewat lantunan tembang favorit tempo dulu. Mereka menyanyikan lagu The Beattles, Celline Dion, Bee Gees, dan sejumlah tembang lainnya.

“Suasana malam itu sangat…apa ya… Semoga suatu saat bisa merasakan suasana malam seperti ini bersama orang terkasih…”

Kehadiran mereka membuat suasana semakin syahdu karena mereka memainkan alat musik dengan sangat indah. Sinkronisasi bunyi biola, cello, dan akordion membuat pikiran menjadi rileks dan melayang terbawa suasana.

Melihat situasi ini, saya jadi teringat dengan pengamen di Jakarta. Tapi, kondisi ini seperti berbanding terbalik dengan apa yang biasa saya alami di ibukota. Pengamen hadir bukan sebagai penghibur, tapi pengganggu.

Malam di Eropa

Sama seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, suasana malam di Budapest sangat ramai dipenuhi para penikmat hiburan malam. Bukan diskotik atau semacamnya, tapi lebih kepada menikmati wisata kuliner dan budaya yang ditampilkan seniman lokal.

Sejumlah orang berlalu-lalang di depan saya bersama pasangannya masing-masing. Mereka tampak menunjukkan kemesraan satu sama lain. Sebuah pemandangan langka yang mungkin sangat jarang bisa ditemui di Jakarta dan tempat lain di Indonesia.

Pemandangan malam di Eropa sangat indah. Lampu-lampu kota berpendar, semua larut dalam kebahagiaan, sampai semua berakhir ditelan heningnya malam. Semoga Tuhan mengijinkan saya untuk kembali menikmati suasana serupa di lain masa.

 

 

Share this article to Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Baca artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *