Saat Kebesaran Tuhan dan Kekuatan Kemanusiaan Berpadu di Tengah Tsunami

Potret ini menggambarkan bantuan asing yang terus mengalir kepada Indonesia. Semua bahu-membahu untuk memulihkan kondisi di Aceh dan sekitarnya.

Banyak yang bilang, berkunjung ke Banda Aceh belum lengkap kalau belum mampir ke Museum Tsunami Aceh. Museum seluas 2.500 meter persegi itu terletak di pusat kota Banda Aceh, tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda.

Museum Tsunami Aceh resmi dibuka pada 8 Mei 2011. Museum dengan bangunan tiga tingkat itu dirancangan oleh Ridwan Kamil, dosen arsitektur Institut Teknologi Bandung yang kini dikenal luas sebagai Walikota Bandung.

Saya sempat ragu ketika akan mengunjungi Museum Tsunami Aceh, sebab salah seorang teman yang sebelumnya pernah berkunjung ke museum itu berkata, “Museum Tsunami nggak ada apa-apanya, gitu-gitu doang isinya.”

Kalau dibandingkan dengan koleksi diorama Museum Pancasila Sakti (Lubang Buaya) dan Monumen Nasional (Monas), atau luas bangunan Museum Keprajuritan (Taman Mini), Museum Tsunami Aceh memang kalah jauh.

Akan tetapi, Museum Tsunami Aceh punya makna berbeda. Museum itu menjadi monumen peringatan sekaligus wadah pembelajaran mengenai bencana tsunami yang menerjang Banda Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004.

Tujuan lain pembangunan Museum Tsunami Aceh adalah untuk menjadi pusat pendidikan bagi generasi muda agar lebih tanggap bencana. Museum itu juga didesain sebagai pusat evakuasi jika sewaktu-waktu tsunami datang lagi.

Dari sisi tata ruang, Museum Tsunami Aceh terdiri dari sejumlah ruangan yang punya makna filosofis. Mulai dari terowongan tsunami, ruang cerobong yang berisi nama-nama korban di bawah lafadz ALLAH, hingga jembatan pengharapan.

Di antara sejumlah ruangan yang ada di dalam Museum Tsunami Aceh, ruangan berisi kumpulan foto dan diorama yang terpampang di ruang pamer temporer di lantai dua menjadi spot yang paling menarik perhatian saya.

Di ruang pamer itu tergambar jelas betapa ganasnya gelombang tsunami yang menerjang pesisir utara dan barat Provinsi Aceh. Lebih dari 240.000 nyawa melayang, kerugian material ditaksir mencapai puluhan triliun rupiah.

Bangunan rusak parah, masyarakat sengsara, mereka kehilangan keluarga dan harta benda. Foto-foto di ruang pamer itu juga menampilkan wajah anak-anak dengan tatapan kosong, seakan kehilangan masa depan.

Ruangan ini dinamakan jembatan pengharapan. Di atasnya menggantung nama-nama negara yang turut membantu Indonesia memulihkan kondisi Aceh pasca bencana tsunami.

Tuhan Maha Besar

Di sela-sela potret kehancuran, saya melihat bukti kebesaran Tuhan di Museum Tsunami Aceh. Salah satu bukti kebesaran itu bisa dilihat dari keajaiban yang terjadi pada Masjid Baiturahman di Lhoknga dan Masjid Baiturrahim di Ulee Lheue.

Kedua masjid itu tetap berdiri kokoh meski diterjang tsunami. Padahal, letak kedua masjid itu hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai. Menurut sejumlah saksi mata, gelombang besar itu pecah kala menghantam masjid.

Bertolak belakang dengan kondisi masjid, seluruh bangunan yang berdiri di sekitar masjid hancur dan rata dengan tanah. Yang tersisa hanya puing-puing bangunan, sampah, dan tubuh-tubuh tak bernyawa.

Saya juga mendengar cerita bagaimana kapal pembangkit listrik dengan berat ribuan ton berpindah tempat dari tengah laut ke tengah kota karena terjangan gelombang tsunami. Saat ini, kapal itu dikenal sebagai objek wisata PLTD Apung.

“Coba mas bisa bayangkan sendiri, kapal ini tadinya berada di tengah lautan. Sekarang bisa ada di tempat ini, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari bibir pantai. Semua karena kuasa Allah,” tutur seorang rekan yang bertugas di Banda Aceh.

Memang agak sulit untuk diterima dengan logika, tapi mungkin memang inilah bukti kuasa Allah. Jika Tuhan berkehendak dan menghendakinya, maka terjadilah. “Kun faya kun…” Kita hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan semuanya.

“Bantuan dari masyarakat dunia untuk para korban tsunami di Aceh dan sekitarnya menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan kemanusiaan mampu bersatu menghadapi ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa…”

Kekuatan Kemanusiaan

Selain kesengsaraan dan kebesaran Tuhan, Museum Tsunami Aceh juga menunjukkan kepada saya betapa besar kekuatan rasa kemanusiaan yang terjalin pasca tsunami menerjang. Dunia terjun langsung membantu rekonstruksi di Aceh.

Tercatat ada sekitar 54 negara anggota Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) mengulurkan tangannya untuk membantu Aceh. Mereka membantu masyarakat Aceh untuk menghapus trauma dan bangkit dari keterpurukan.

“Semua bahu-membahu membangun Aceh. Mereka bukan cuma mengirimkan bantuan kesehatan, tapi juga membangun infrastruktur di Aceh seperti rumah-rumah dan jalan,” kata Pak Adi, seorang pengemudi bentor di Banda Aceh.

“Orang-orang Amerika datang, Jerman datang, semua datang untuk membantu kami semua. Kami merasa tertolong dengan bantuan mereka,” kata Pak Hamid, pengemudi bentor yang kehilangan anak dan istrinya karena diterjang tsunami.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap bantuan internasional, Museum Tsunami Aceh memiliki jembatan pengharapan. Di atas jembatan itu tergantung nama-nama negara relawan yang membantu Aceh dengan pesan kedamaian.

“Museum ini bukan untuk mengingatkan masa kelam, tapi justru meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih tanggap bencana. Semoga pengunjung bisa mengambil manfaat dari museum ini,” kata salah satu petugas museum.

Dari bencana tsunami saya belajar bahwa kita harus selalu peduli terhadap sesama, tapi jangan pernah mengindahkan peringatan dari Tuhan. Sebab sebesar apapun kekuatan manusia, semua kembali lagi pada kebesaran Sang Pencipta…

Share this article to Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *